Sabtu, 07 Februari 2009

Asyiknya Jadi PSK

Lima dari anggota PSK

Gempa bumi Nias tanggal 28 Maret 2005 yang berkekuatan 8,2SR menewaskan ratusan bahkan ribuan orang membawaku menjalani profesi ini. Disni aku bertemu rekan2 seprofesi dan seperjuangan yang lucu2, pokoknya gak kalah lucu dengan srimulat.

Ada Roy dorman yang berasal dari Manduamas negri anta berantah. Orangnya asyik, ramah (rajin menjamah) and cowok murahan (siapa saja di tampung di kamarnya yang luasnya gak lebih dari 2x2m, termasuk aku yang sering menghabiskan weekend di Gunung sitoli). Ngakunya sih Roy lefrand, padahal lebih pantes kalau dijuluki roy klaperan, karena badannya yang kurus kering, tinggal angin and tulang, kalau kentut tulanglah yang tersisa.

Ada Elis yang gak kalah hebatnya dengan Deby Sehartian yang menciptakan bahasa gaul, tapi elis menciptakan bahasa digauli. Contohnya jeruk nipis menjadi jeryuk nipais, pipis menjadi paipais, elis menjadi elais… pokoknya elais memperkosa bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan e ye de.

Ada Siti Dini maisayarah yang paling seneng kalu dipangil imey (no mesin HP). Anaknya rajin, jujur, ramah, tamah, sopan, santun dan tidak suombong. Salah dua dari keunggulannya adalah never say no dan sedikit pelupa. Jadi tips untuk buat janji dengan imey, siapa telat dia dapat. Ngehh gak siih?? Gini contohnya: “Mey nti makan siang bareng ya” kata elais via telpon. “Ok dech” jawab imey tanpa pikir 2 kali. Sejam kemudian “Mey renang yuks” ajak roy. “iihhhhh mau dong” jawab imey tanpa merasa bersalah telah mengkhianati elais. Jam makan siang tiba. 1 message received “Aku uda di depan rumah, elais”. “Elais aku lagi jalan ama roy, mo renang, gabung yuk!!” Jawab imey diujung telponnya tanpa merasa berdosa. “50 x 2 capek dechhh, Ketik C spasi D capek dechhh” Jawab elais via SMS.

Ada Budi yang paling senang diuji, puji, suci, wangi, sepanjang hari. Orangnya suka bergaya jadul 70s. Dan yang paling gila pada saat farewell partynya (resign karena diterima di t4 laen). Idenya gila abizzz. Niy anak buat lucky draw, tau gak hadiahnya? Dia lelang barang2 bekasnya seperti lucky draw. Ada yang dapet obat bekas, payung rombeng, jacket second. Hadiah utamanya upsss maaf C-KO (cakep kotor) dapat CD (celana dalam) bekas…

Ada Elvina, dijuluki sebagai wonder woman karena kehebatannya. Seorang single parent yang sibuk mengasuh hasil buah percintaanya Donda namanya. Sekarang duduk di bangku kelas 4SD (suaminya meninggal ketika dia mengandung 9bulan). Keunikannya kalau sudah kerja lupa maen, (kalau sudah maen lupa kerja). Typical cewek yang pekerja keras.

Trus ada Martha. Sekarang bert4 tinggal di daerah tari hula2 berasal. Suaminya dari negri paman sam dan anaknya baru satu (cewek). Suka buat janji dan gak ada hujan gak ada badai last minute janjinya di batalin. Maaf ya Mar buka kartu. Tapi bagaimanapun orangnya baek hati, suka menawarkan bantuan dan tidak segan2 menawarkan jasa menjadi supir pribadi kami hehehheheheh.

Karena memiliki kegilaan, kebodohan, kehebohan yang dibilang hampir mirip dan merasa seumur, sejiwa, sesaudara, sejigong, tercetuslah ikhar membentuk satu genk, kami namai R2S (rekan-rekan sebaya). Tapi tidak bertahan lama, karena penduduknya pada urbanisasi. Seperti Martha ikut suaminya ke hawai, Imey balek ke Medan (mo deket mama), Budi udah berada di Teluk Dalam (gabung dengan NRP), Ibu Elvina sibuk dengan kerjaannya merancang Pengurangan Resiko Bencana (sekarang di juluki Ina Laptop, ina dalam bahasa Nias artinya Ibu)

Karena kekurangan anggota, akhirnya kami yang tersisa melakukan ekspansi untuk menambah pergaulan. Malam perayaan 2 taon gempa di Pantai Bunda membawa kami bertemu rekan2 sesama PSK laennya. Ada jeung agil (Aji Gile) dari UN, Jeung Pit Darma dari SCUK, Jeung Ade Dermawan dari SCUK, Jem But (misstype seharusnya jeung bud) dari NRP, Jeung Novri dari CWS, Pokoknya ada jeung2 laen yang kalau disebutin jumlahnya lebih dari ratusan. Karena ada ekspansi maka ada perubahan nama genk, anak2 setuju dengan nama J2C (jeung-jeung club).

Disini era kehidupan baru di mulai. Nias yang kami juluki City of Nothing (no swimming pool, no plaza, no gym, no theatre) membuat kami ingin mengeksplore alamnya. Banyak hal yang kami kunjungi di sini, budaya, alam dan pantai. Mau tau apa adja yang kami temukan disini? Akan aku ceritakan diepisode yang akan datang. Trus pantengi traveller mania.


Jangan negative thinking doloe. PSK itu adalah kependeken dari Pekerja Sosial Komersial. Selaen yang aku ceritakan tadi banyak fasilitas laen yang tidak diberikan oleh profit oriented company. Misalnya:
Ada Housing Allowences atau disediakan guest house.
Ada Annual leave of 2,5days per completed month of service, jadi satu taon cutinya 30 hari. Puas dech tuk berlibur..
Ada Sick leave of 2 days percompleted month of services, gak butuh surat dokter lho. Jadi bisa PPS (pura2 sakit).
Ada 5 working days R&R (rest & relax) per completed 3 months of service, tiap tiga bulan sekali boleh liburan plus dapat return ticket gratis dari point of hire.

Ada R&B = rest in bed hehehehhe…
Kalau uda bosan dapat RnR alias resign never return.

Catatan kaki
Tuhh asyik khan jadi PSK, kalau uda tau jangan bilang siapa2, takut banyak yang berminat, jadi banyak saingan. Aku khan takut tersaingi.

Rabu, 04 Februari 2009

Supplier Kampung Yang gak Kampungan

Niy dia rumah bantuan Palang Merah Kanada
Perasaan senang tercampur dengan keraguan menyelimuti diriku pada saat itu. Seharian terus memikirkan job offer yang aku terima dari Palang Merah Kanada. Sudah kesian kalinya ku pandangi monitor. Karena merasa tidak puas akhirnya aku print, karena tidak percaya dengan yang aku baca, kuberanikan diri meminta kepada teman membacakannya untukku, namun tidak berubah juga, tetap aku ditempatkan di Lahewa. Kelihatan aneh, tapi inilah yang terjadi. Pada umumnya seorang procurement bekerja di wilayah perkotaan, setidaknya aku ditempatkan di Gunung Sitoli, Ibukota Nias.

Ibukotanya saja tidak lebih dari 2km persegi luasnya, dan hanya ada satu lampu merah dipersimpangan Diponegoro & pelita, itupun tidak berfungsi, angkutan lokal hanya becak dayung & becak mesin. Bila malam tiba seperti kota mati tidak ada kehidupan ditambah mati lampu bergilir yang kerap terjadi. Ibukotanya saja seperti ini. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana dengan lahewa. Tapi demi kemanusian aku bulatkan tekad ku. Aku pasti bisa.

5 Juni 2007.
Hari kedua bergabung dengan Palang Merah Kanada- Lahewa, Nias. Aku baca semua standar & prosedur Finacial Limit for Purchases of Goods and Services. Dalam hati membantah ingin rasanya memberontak, “gila hanya 1 juta membutuhkan 3 penawaran”. Tapi yang namanya peraturan di buat untuk dijalankan bukan untuk dilanggar.

Misi Minggu pertama
Mengenal tempat, Keliling2 supplier, memberikan penjelasan prosedur dan standaar financial CRC. Jangankan bisa bicara dengan pemiliknya, dipandang saja sudah syukur. Aku berdiri sudah lebih dari satu jam, masih tetep diabaikan seperti tunggul kayu tua yang tak berguna. "tega ya" gumamku. Maklum masi suasana paska gempa. Masih banyak yang membutuhkan bahan bangunan. Aku tidak patah semangat. Aku terus melakukan investigasi kecil2an. “Kapan saat yang tepat untuk berbicara kepada mereka”. Investigasiku tidak sia2, akhirnya aku mendapatkan jawaban. Sabtu sore, adalah waktu yang tepat untuk bebricara dengan mereka. Pada saat itulah toko sepi dan lengah.

Pada awalnya toko2 keberatan untuk diajak bekerjasama. Tidak semua toko mau menerima pembayaran dengan cheque dan bank transfer. Apalagi peraturan financial Palang Merah Kanada yang mengharuskan membayar degan check atau bank transfer bila lebih dari 1 juta. Supplier meminta pembayaran cash dibawah 5 juta. Pendekatan pertama gagal.
Pendekatan kedua dengan memakai strategi. Aku undang supplier ke kantor untuk membicrakan prosedur CRC. 90% toko menolak dengan alasan yang kompak & seragam (seperti anak panti) tidak memiliki waktu luang. Aku setujui permintaan mereka untuk melakukan pertemuan di hari Minggu. Bulan pertama aku banyak menghabiskan waktu weekendku di gunung sitoli.

Dengan penjelasan atas nama kemanusian dan menolong masyarakat yang membutuhkan, bukan sekedar untuk mencari untung belaka dan kemauan untuk belajar dari seorang pebisnis kempung menjadi pebisnis professional (seperti pendeta berkhotbah mereka menndengarkan kata sambutanku degan antusias). Meraka membuka lapang dada menerima peraturan & prosedur CRC. Cukup sulit juga untuk memulai suatu hal. Prosedur sudah dijelaskan namun masi ada saja kesalahan.
Penjajakan pertama
“Bang seperti penjelasan di rapat kita tempo hari, jadi surat permintaan penawaraannya diisi, nanti siang saya jeput kembali” kata ku. “Gampang.. pokoknya bos terima bersih” Dengan semangat pemilik toko menjawabku. Tiba saatnya aku menjuemput penawaran. 3 dari 5 supplier menjawab “bang barang sudah aku sipakan , tinggal diangkut ke mobil, mana mobilnya bang biar anggota yang naekan”. “Lho kertas yang saya kasi tadi pagi mana?” Tanya ku. “sudah saya buang, tapi saya sudah tulis kok di bon” jawabnya dengan enteng. Alamak.....!! Aku hanya bisa senyum kecut pada saat itu. Dengan hati yang sabar aku jelaskan kembali kepada mereka arti dari surat permintaan penawaran.

Masih banyak kejadian lucu, aneh yang akan aku wariskan ke anak cucu ku kelak. Telponku berdering “Barang2 yang abang ambil kemaren kok bayarnya pake kertas? Gimana niy bang?” Kata supplier di ujung telp dengan logat sedikit marah. “Ohhhh itu namanya check, kita bisa cairkan di bank, ntar kalau saya ke gunung sitoli, saya akan kasi tau cara mencairkannya” Jawab ku.

Belum lagi keterbatasan komunikasi dengan supplier yang luar kota. Kalau mereka memiliki jaringan internet fine. Tapi bagaimana dengan yang tidak memeiliki internet, via pos? Akan tiba 2 minggu kemudian, via fax? No fax communication at our office. Akhirnya melalui pendekatan yang baik dengan beberapa LSM aku dapat menerima fax melalui mereka. Seperti penjajah, Bila fax sudah diterima, tidak segan2 aku minta tolong mereka untuk scan and email ke aku. Tentunya dengan balasan iming2 yang memukau, walaupun belum pernah janji yang aku tepati. Hehehehehe jangan bilang siapa2!!!

Pernah aku mengalami kejadian yang memalukan. Pada saat itu fax dibeberapa LSM rusak, akhirnya karena hubungan yang baik aku bisa berhasil menerima fax dari salah satu supplier yang berada di Gunung Sitoli. “Andi saya sudah terima fax dari Medan” Kata supplier. “Thanks bang nanti kalau ada orang yang ke gunung sitoli aku suruh meraka ambil” Jawab ku. “Eh bang harga mereka lebih bagus dari harga yang aku kasi, jadi meraka yang menang baa” kata supplier dengan aksen Nias yang kental. Aku hanya bisa garuk2 kepala, sambil bergumam dalam hati “kejadian terbodoh yang pernah ku alami”.

Ini baru kejadian supplier. Rintangan dan halangan delivery proses tidak kalah serunya. “Jembatan muzoi putus” kata operator radio room kepadaku. Alamak.. Satunya2 akses menuju dari dan ke lahewa harus melewati jembatan. Minyak adalah hal yang penting tulang punggung proses kegiatan. Stock minyak semakin menipis hari demi hari. "kenapa gak pake porter adja, jadi orang kok repot" celetuk congo. "Kalu gak mo repot jangan jadi orang, lagian porter juga manusia" potongku.
Porter dadakan pun menjamur. Tidak pandang bulu semua yang dekat denganku, aku kerahakan menjadi porter. Dengan semangat 45 kami berhasil menyebrangkan drum kosong untuk disi di Gunung Sitoli. “Siapa yang angkat drumnya kalu sudah disi 200liter / drum mana ada yang sanggup angkat bang” celutuk salah satu security. Ide berlian datang tak diundang dibenaku. Dengan menggunakan selang sebagai senjata, kami pompa minyaknya dari drum yang berisi ke drum kosong. Lumayan jauh jaraknya ±40m membutuhkan waktu seharian untuk memompa 5 drum.

Paling tidak ini terbayar, dengan semangat one team, kami dapat menyelasaikan membangun 2100rumah di 24 desa. Bangga rasanya melihat rumah2 bantuan Palang Merah yang berdiri seperti jamur bermunculan dimusin hujan.
Notes:
Ternyata 75%, para supllier di Gunung Sitoli memakai barang bermerk seperti Bonia (Boneng niy ya??) serius bonia asli, yang gak kalah gengsinya, operasi sinus adja sampe ke Rumah Sakit Raffles Hospital Singapore. Tuhh ternyata mereka gak kampung2 amir.

Senin, 02 Februari 2009

Unoccupied Beautiful Makora Island

View of Makora Island
Kalau ke Sabang ada ferry penumpang yang sangat layak konsumsi dan tersedia berbagai jenis kelas seperti layaknya pesawat, mulai dari kelas ekonomi, bisnis & eksekutif yang dapat ditempuh hanya 1 jam dari pelabuhan Ulele di Banda Aceh. Kalau ke sibolga ada ferry yang biasa disebut dengan kapal cepat. Ferry ini dapat menempuh 3 jam dari gunung sitoli sedangkan ferry besi (yang dapat menampung penumpang & berbagai jenis kendaraan) yang dikelola oleh ASDP bisa ditempuh dalam waktu lebih dari 8 jam. Jadi wajar adja kalau masyarak setempat menyebutnya kapal cepat. Kalau kapal di makora, sulit mendeskripsikannya. Hanya manusia berhati baja, bertekad bulat dan keukeuh ingin melihat pulau ini yang berani mengambil resiko melakukan perjalanan ke pulau yang tak berpenghuni ini. Hanya sebual kapal kecil, terbuat dari kayu yang lapuk karena sudah termakan usia dan bermesin sederhana plus bonus perahu yang kerap bocor. Gayung hitam yang ternoda pelumas siap menjalankan tugasnya menguras air apabila mesin sudah mulai terendam. Inilah saatnya dibutuhkan seorang volunteer untuk menjadi nakhdoa, yang tentu saja salah satu dari penumpang. Sipemilik kapal sibuk bergelut dengan air yang berwana hitam di ruang mesin. Pilu emang, tapi itulah pemandangan yang lumrah dan kerap terjadi di pulau kecil di negri tercinta ini.

Penderitaan belum sampe disini saja. Yang namanya pulau kecil, cuaca sangat unpredictable. Jadi siap2 terpanggang bila raja siang menampakan wujudnya, atau basah kuyup bila hujan turun yang disertai dengan badai. Lengkaplah penderitaan ini. Tetapi semua tantangan, halangan dan rintangan tidak menggoyahkan semangat kami. Ini terlihat dari bukti canda, tawa dan pose nakal kami yang kadang2 membuat kapal hilang keseimbangan dan sebuah lagu yang mendadak tercipta dinyanyikan dengan nada yang tidak jelas. Begini liriknya “Naik kapal besar tidak tersedia, naik kapal sedang juga tidak ada, naik kapal kecil terima adja”.

Cuaca sangat mendukung saat keberangkatan kami. Mendung ditambah ikan2 kecil berlompat2 mendekat kearah kapal kami. Suatu pemandangan yang attractive. Namun cuaca yang tiba2 berubah panas membuat kami berebut untuk bertedu. Cover area untuk berteduh limited edition, tidak cukup untuk menapung kami yang lebih dari 20orang saat itu. Jadi hukum sale berlaku disni, siapa cepat dia dapat. Sebenarnya ruang teduh ini hanya untuk melindungi mesin kapal dari panas dan hujan, jadi harus rela kalau si Bapak menggusur untuk memeriksa mesin kapal yang sering terendam air. Jadi kegiatan menggantikan bapak sebagai nakhoda sangat lazim terjadi. Sebenarnya ini pengalaman yang seru juga, jadi tidak heran kalu anak2 saling berebut ingin menggantikan posisi si bapak.

Namun semua ini terbayar oleh pemandangan Makora Island yang sangat indah. Pulau kecil yang berpasir putih terlihat jelas didepan mata. Ingin rasanya menjeburkan diri ke air secepatnya. Makora hanya memiliki pantai sekitar 3 meter yang dangkal, selebihnya jauh menjorok cukup dalam. Dapat terlihat jelas bila memakai google, cukup menegakan bulu kuduk juga memandangnya. Puas rasanya, airnya tenang, jernih dan tidak berombak. Seperti berada di kolam renang raksasa terbuka plus pemandangan alam yang menakjubkan. Pulau2 kecil yang tidak mau kalah unjuk gigi mengelilingi pulau makora, membuat pulau ini lebih exotic untuk dipandang. Tidak rela rasanya meninggalkan pulau ini, begitu tentram dan damai. Jauh dari kehidupan hiruk pikuk kota.
How to get mokora island? Makora dapat ditempuh 1 jam dengan kapal seala kadarnya dari Lahewa, Nias Utara.

How to get Lahewa, Nias Utara? Lahewa dapat ditempuh 2 jam via darat dari Gunung Sitoli, Ibukota Nias.

How to get Gunung Sitoli? Mau tau jawabannya, will be right back after these commercial breaks.

Sabtu, 31 Januari 2009

Singapore is Fine Country

Indonesia terkenal dengan jam karetnya. Tapi yang aku alami ini beda, aneh tapi nyata. Sesuai dengan jadwal keberangkatan, tgl 31 Des 2008 jam 1 siang pas gak lewat gak lebih aku terbang dari Medan ke Batam. Semua tetek bengek uda aku atur seapik mungkin. Hingga2 hitung2an transport yang murah meriah hingga jurus pakar ekonomi sudah aku keluarkan, mengeluarkan modal sekecil2nya and meraih untung sebesar2nya. Kalau aku pergi dengn taksi ke polonia 80 ribu perak (ditempuh dalam waktu 30 menit) dan angkot 15 ribu perak (Ditempuh dalam waktu 1 jam). Setelah berdasarkan hitungan konservatif akhirnya aku jatuhkan pilihan ku naek Angkot.

Waktu yang tepat berangkat dari rumah jam 11 teng, agar tidak menunggu terlalu lama di airport. Menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Terlebih2 apabila kita membutuhkan toilet. Yang namanya toilet di Indonesia susah menemukan yang nyaman dan bersih. Padahal seharusnya toilet di airport di buat senyaman dan sebersih mungkin. Karena Toilet di airport adalah fasilitas yang laris manis digunakan oleh passangers. Untuk penerbangan domestik saja passangers harus menunggu minimal 1 jam & internasional 2 jam.

Getar HPku membangunkan tidurku di angkot. Ku masukan tangan ke saku kuraih HP yang terus meraung2 tidak sabar ingin disentuh. Diujung telp terdengar seorang wanita memberikan penjelasan dengan semangatnya. Rasa ngantukku pun hilang, sirna di terpa angin cepoi2 angkot. "Selamat Siang!! Dengan bapak Andi? Saya dari Mandala airlines cuma ingin memberitahukan bahwa check in counter akan ditutup 30 menit lagi." Jelas custemer service mandala. Bagai disambar petir di siang bolong aku terkejut sekaligus ketakutan bukan main sepeti kedatangan malaikat Izrail yang ingin mencabut nyawaku, "Lho keberengkatannya khan jam 1 sekarang 11.15 kok sudah dituutup?" celah ku. "Iya pak pesawatnya mengalami resechedule jadi keberangkatnya dipercepat jam 12.30." Jawab custemer serive mandala. "Kok saya gak di info sebelumya?" tantang aku. "Iya pak kita sudah info semua customer 3 hari sebelumnya, mungkin HP bapak pada saat itu tidak aktif." bela custemer service mandala. "Khan bisa info saya via email." celetukku "Ya sudahlah sekarang saya lagi di jalan, jangan di tutup ya." Jawabku dengan lantang. Pelajaran penting apapun namanya airlines itu tidak pernah salah. Seperti bos dan bawahan. Kalau bos salah wajar manusia, tapi kalau bawahan salah kurang ajar alias stupid f**k idiot.

Terpaksa aku turun dari angkot dan lari tunggang langgang mencari taksi tanpa menghiraukan orang sekeliling yang tertabrak tas ku. Makii2an kecil terngiang ditelingaku. Aku tetep cuek bebek menghiraukan celotehan mereka. "Mau untung malah puntung" gumam ku dalam hati. Apa hendak dikata malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Akhirnya aku datang juga 60 detik teng sebelum counter check in ditutup. Perasaan terharu biru merona menyelimuti diri ku. Hati kecilku berkata "Akhirnya aku terbang juga". Satu informasi yang menyenangkan sekaligus menyedihkan, Mandala airlines telah mengganti hampir seluruh pesawatnya dengan Airbus. Yang menyedihkan seperti moto cheap airlines laennya mereka tidak menyediakan snack on the plane. Pelajaran kedua ada harga ada mutu.


Pemerintah memberlakukan peraturan per tanggal 1 january 2009 bagi yang tidak memiliki NPWP wajib membayar fiskal, by plane 2.5juta and by ferry 1juta. Maka aku putuskan untuk berangkat ke singapore di hari yang sama. Ada banyak counter penjualan ticket ferry singapore di baggage claim area. Untuk ticket return nya dijual seharga SGD18. Tetapi satusnya open date dan berlaku untuk 1 bulan. Karena alasan status open date, takut tidak dapat ferry, aku memutuskan untuk membeli ticket di Batam Centre Seaport. Lagi2 sepertinya dewi fortuna tidak berpihak kepada diriku. Rupanya harga ticket di Batam Centre Seaport lebih mahal. Untuk return ticket dijual seharga SGD27. Informasi penting jangan takut membeli ticket untuk status open date. Karena ferry menuju Singapore sangat buuuaaanyakkk. Ferry pertama berangkat jam 7.00 dan ferry terakhir jam 20.00. Setiap jamnya ada keberangkatan kalau tidak ada alasan maintenace . Alasan klassik yang kerap terjadi di penerbangan Indonesia.

Karena hari ini hari terakhir untuk free fiskal. Jadi para pencinta shopping Indonesia sangat membludak membanjiri fine country ini. Bayangin adja untuk proses mendapatkan visa aku harus rela antri lebih dari 1 jam. Waktu mengantri ini ku menfaatkan untuk men SMS menginformasikan rekan2 sebaya & jeung2 club di Indonesia "aku telah tiba di Singapore". Dengan harapan mereka iri pada diriku yang menghabiskan waktu OLD and NEW di Singapore. Tapi apa yang aku dapat??? Mau tau?? Simak percakapan berikut:

"Halo.. halo... Can see you that sign hah?" Seorang petugas custum dengan logat english chinese nya menegur diriku dengan angkuh. "Oh Sorry I don't read that sign." Jawab ku. Dasar Singapore is fine country. Ini baru di wilayah custom sudah banyak larangannya. Mau tau larangannya!! Dilarang merekam video, dilarang mengambil gambar, dilarang mengaktifkan HP. Beda di Indonesia semua perlengkapan elektronik pada saat proses x-ray scan di letakan di keranjang yang telah di sediakan. Tapi disini semua perlengkapan elektronik harus masuk kedalam tas.

Kluar dari custom area, walah gak kalah banyak larangannya. Bayangin adja begitu masuk MRT & Bus yang lasung nampak serownok adalah sticker larangan. Dilarang membawa binatang peliaharaan, dilarang makan, dilarang minum, dilarang membawa Durian & Dilarang melarang (hehehehhe). Aduh kasian ya orang singapore, mau makan durian adja dilarang. Harus kluarin extra money. Paling tidak harus punya mobil pribadi atau pake taksi untuk membawa durian. Kalau di Indonesia peraturan ada untuk di langgar. Kalau di Singapore berani melanggar? Fine at least SGD500 atau bekerja untuk negara paling tidak selama 3 bulan. Satu hal lagi, senam kesegaran muka dilarang juga disini. Tau khan seneam kesagaran muka. Pemen karet, sampe segitunya permen karet pun dilarang. Ternyata Singapore itu ibarat hidup di sangkar emas tapi tak bebas. Tapi beginilah cara pemerintah unruk menciptakan budaya disiplin. Apapun ceritanya Indonesia I love my country. Ingin rasanya cepat pulang menghirup udara bebas.

Kamis, 29 Januari 2009

2 Days / 1 Night Rafting, Jungle Track & Bukit Lawang Tour

The Itinerary

Day 01:
Arrive in Medan – Medan City Tour
you will be picked up on arrival in Medan, the 3rd largest city of Indonesia after Jakarta and Surabaya. City sightseeing tour visit sultan Deli Palace, the Great Mosque and some shopping centre. Lunch will be coved by own self.

(Rafting in Binge)


Medan – Bingai River Rafting – Bukit Lawang (D)
Depart for Bingai River in Namo Sira-sira Langkat around 1,5 hour drive from Medan. Rafting difficulty of II-III (medium).Depart for Bukit Lawang, check in hotel.(Overnight in Rindu Alam Hotel or similar hotel)
Dinner included



(Bukit Lawang Jungle Track)


Day 02 : Bukit Lawang – Medan (B,L)

After breakfast, depart for Bukit Brisan Mountain to see Orang Utan feeding. Lunch will be in Local restaurant. Depart to Bat Cave. in the afternoon depart for Medan enroute pass palm oil and Rubber plantation.

(Bat Cave)

Tour Package include Rafting
20 Persons = IDR785.000 / person,- (AC Tourist coach)
25 Persons = IDR750.000 / person,- (AC Tourist Coach)
30 Persons = IDR715.000 / person,- (AC Tourist Coach)
7 persons = IDR780.000 / person,- (AC Kijang/Inova/Avanza)

Tour Package Exclude Rafting
20 Persons = IDR535.000 / person,- (AC Tourist coach)
25 Persons = IDR500.000 / person,- (AC Tourist Coach)
30 Persons = IDR465.000 / person,- (AC Tourist Coach)
7 persons = IDR515.000 / person,- (AC Kijang/Inova/Avanza

Limited seat book now
Tour will be held on 1 – 2 April 2009 (any suggestion??????????)
Cancellation Fee : 25% from total amount
Booking fee : 50% from total amount
Last payment : 15 March 2009

PIC :
Indawati

HP : 0813 63444 652
Email : inda_clubz@yahoo.com

Andiez

HP : 0852 9756 0785
Email : andiez_cocoa@yahoo.co.id